2014-4-14
Alangkah
lucunya semua ini, tapi bagaimana ketika seseorang melihat hal itu lucu tetepi
tidak sedikitpun tertawa yang bahkan untuk tersenyum pun tidak mengembang di
wajah ketika definisi lucu itu harus ketawa atau tersenyum dengan malu-malu,
yang padahal di dalam hati terdalamnya tertawa terbahak. atau dengan definisi
yang lain dari kata lucu, yaitu terlihat aneh dengan ekspresi wajah yang heran
“kok ya ada yang seperti itu, A. pandangan kagum B. pandangan aneh C. Pandangan
merendahkan”. Nah, dari ketiga jenis ini, yang paling sering ditemukan adalah
opsi yang ketiga, tetapi dengan wajahnya yang pura-pura polos, entah ada maksud
tertentu atau tidak yang digunakan sebagai tirai untuk menutupi dari semuanya
yang mereka lakukan, yang entah itu disadari atau tidak. Tapi jika diperhatikan
dengan seksama bahwa ekspresi wajah itu ketara, kecuali jika memang orang
tersebut memiliki muka yang datar dengan kata lain wajah tanpa ekspresi
sedikitpun, ini akan lain ceritanya. Dan saya kasihan dan merasa susah jika ada
yang seperti itu, apabila ekspresi diartikan salah. Padahal sebenarnya tak
mengerti yang sedang dirasakan apalagi di fikirkan. Berujung pada salah
pengertian dan kesalahpahaman berakhir pada rasa ketidaksukaan yang indikasinya
BENCI atau bahkan bisa jadi BENCI SEKALI, hanya karena ekspresi wajah yang
salah diartikan. Haruskah ada orang yang ahli sebagai ahli penerjemah ekspresi
wajah dengan catatan dapat membaca pikiran orang, karna dapat dipastikan sudah
tidak salah terka lagi (seperti halnya penerjemah alkitab, atau yang lagi
booming roy suryo yang ahli dalam mendefinisikan dari sebuah gambar dengan segala
alat canggihnya) perlukah menciptakan alat yang seperti itu juga (?). Sebenarnya
pribadi manusia itu bisa membaca apapun bentukanya dari yang paling mudah yaitu
tulisan, ekspresi dari segala ekspresi, gerak tubuh hingga yang ada di dalam hati,
dan bahkan pikiran sekalipun. Jadi itu bagaimana dari manusia itu sendiri,
untuk memperdalam dari apa yang mereka telah punya sebagai dasar tersebut (hak
Hakiki yang telah di berikan oleh sang pencipta). Tapi, dengan kotornya
manusia. Pola tersebut memudar secara perlahan, yang hanya karena pikiran picik
manusia. Kalau ini saya ga mau tau, dari mana asalnya pikiran picik tersebut,
karna pasti berbagai asumsi disini akan muncul. Jadi saya tidak akan membahas
pikiran picik di episode ini..
Semua
dikatakan lucu ketika melihat sesuatu dalam artian memiliki bentuk atau tidak berbentuk
sekalipun. Saya contohkan ketika ada seorang teman yang sedang bercerita dengan
seriusnya kepada temannya lagi, yang apa kalian tau bagaimana respon dari sang
pendengar ketika sang teman telah usai bercerita? Kata pertama adalah “wuah,
lucu banget”, ada juga yang tertawa dulu “haha, itu lucu” sungguh klise sekali
semua jawaban itu. Dan saya bingung, bagaimana mengartikan ini semua ketika
semua hal telah dianggap sebagi cerita lucu. Terkadang pilihan lucu itu sebagai
alternative untuk waktu tertentu, tetapi sekarang tidak. Kata lucu bahkan
diucapkan dalam segala bentuk ekspresi. 1. Cerita diri sendiri lagi kesusahan
karena suatu hal yang bisa dibilang kekurang beruntungan si doi pada waktu itu.
2. Yang kedua ini hampir sama dengan Cerita yang pertama tapi bedanya hanya si
tokoh cerita ini menceritakan orang lain yang terlihat. 3. Selalu jadi obsi
yang terakhir, yaitu cerita yang memang bergenre lucu. Itu emang cerita lucu,
tapi terkadang cerita lucu pun tak mengindikasikan kita tertawa terbahak, karna
orang yang mencerikan juga tak lucu(dengan catatan muka datar) jadi apanya yang
lucu, toh itu juga hanya sebuah cerita lucu (catatan pribadi: dianggap tidak
penting). Jika ada alternatif pilihan yang lain maka saya pun akan memunculkan
opsi ke empat, tapi sayang sampai saat ini opsi hanya dibuat sampai yang
terkahir itu 3, meskipun banyak yang berpikiran setiap kepala itu berpikir yang
berbeda-beda, tapi jika dilakukan survey rate, maka rating yang muncul pasti
ketiga opsi tersebut. Jadi pentingnya disini apa? Dan bagaimana cara
penyelesaiannya? Jika terselesaikan, itu berdasarkan apa? Adakah yang tau
readers? Cukup dijawab di dalam hati sendiri saja, karna bagaimanapun,
adakalanya pertanyaan tak semua butuh penjelasan, karna jika jawaban itu
rahasia, maka tetap simpanlah rahasia itu, selama kau bisa mempertahankan
rahasia itu.
Cukup
sekian cuap-cuap hari ini, lampbai” tangan, usap keringat.
Annyeong.
. . .
Tertanda
– yang bertandangan J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar