Translate

2014-04-15

2014-4-14
Alangkah lucunya semua ini, tapi bagaimana ketika seseorang melihat hal itu lucu tetepi tidak sedikitpun tertawa yang bahkan untuk tersenyum pun tidak mengembang di wajah ketika definisi lucu itu harus ketawa atau tersenyum dengan malu-malu, yang padahal di dalam hati terdalamnya tertawa terbahak. atau dengan definisi yang lain dari kata lucu, yaitu terlihat aneh dengan ekspresi wajah yang heran “kok ya ada yang seperti itu, A. pandangan kagum B. pandangan aneh C. Pandangan merendahkan”. Nah, dari ketiga jenis ini, yang paling sering ditemukan adalah opsi yang ketiga, tetapi dengan wajahnya yang pura-pura polos, entah ada maksud tertentu atau tidak yang digunakan sebagai tirai untuk menutupi dari semuanya yang mereka lakukan, yang entah itu disadari atau tidak. Tapi jika diperhatikan dengan seksama bahwa ekspresi wajah itu ketara, kecuali jika memang orang tersebut memiliki muka yang datar dengan kata lain wajah tanpa ekspresi sedikitpun, ini akan lain ceritanya. Dan saya kasihan dan merasa susah jika ada yang seperti itu, apabila ekspresi diartikan salah. Padahal sebenarnya tak mengerti yang sedang dirasakan apalagi di fikirkan. Berujung pada salah pengertian dan kesalahpahaman berakhir pada rasa ketidaksukaan yang indikasinya BENCI atau bahkan bisa jadi BENCI SEKALI, hanya karena ekspresi wajah yang salah diartikan. Haruskah ada orang yang ahli sebagai ahli penerjemah ekspresi wajah dengan catatan dapat membaca pikiran orang, karna dapat dipastikan sudah tidak salah terka lagi (seperti halnya penerjemah alkitab, atau yang lagi booming roy suryo yang ahli dalam mendefinisikan dari sebuah gambar dengan segala alat canggihnya) perlukah menciptakan alat yang seperti itu juga (?). Sebenarnya pribadi manusia itu bisa membaca apapun bentukanya dari yang paling mudah yaitu tulisan, ekspresi dari segala ekspresi, gerak tubuh hingga yang ada di dalam hati, dan bahkan pikiran sekalipun. Jadi itu bagaimana dari manusia itu sendiri, untuk memperdalam dari apa yang mereka telah punya sebagai dasar tersebut (hak Hakiki yang telah di berikan oleh sang pencipta). Tapi, dengan kotornya manusia. Pola tersebut memudar secara perlahan, yang hanya karena pikiran picik manusia. Kalau ini saya ga mau tau, dari mana asalnya pikiran picik tersebut, karna pasti berbagai asumsi disini akan muncul. Jadi saya tidak akan membahas pikiran picik di episode ini..
Semua dikatakan lucu ketika melihat sesuatu dalam artian memiliki bentuk atau tidak berbentuk sekalipun. Saya contohkan ketika ada seorang teman yang sedang bercerita dengan seriusnya kepada temannya lagi, yang apa kalian tau bagaimana respon dari sang pendengar ketika sang teman telah usai bercerita? Kata pertama adalah “wuah, lucu banget”, ada juga yang tertawa dulu “haha, itu lucu” sungguh klise sekali semua jawaban itu. Dan saya bingung, bagaimana mengartikan ini semua ketika semua hal telah dianggap sebagi cerita lucu. Terkadang pilihan lucu itu sebagai alternative untuk waktu tertentu, tetapi sekarang tidak. Kata lucu bahkan diucapkan dalam segala bentuk ekspresi. 1. Cerita diri sendiri lagi kesusahan karena suatu hal yang bisa dibilang kekurang beruntungan si doi pada waktu itu. 2. Yang kedua ini hampir sama dengan Cerita yang pertama tapi bedanya hanya si tokoh cerita ini menceritakan orang lain yang terlihat. 3. Selalu jadi obsi yang terakhir, yaitu cerita yang memang bergenre lucu. Itu emang cerita lucu, tapi terkadang cerita lucu pun tak mengindikasikan kita tertawa terbahak, karna orang yang mencerikan juga tak lucu(dengan catatan muka datar) jadi apanya yang lucu, toh itu juga hanya sebuah cerita lucu (catatan pribadi: dianggap tidak penting). Jika ada alternatif pilihan yang lain maka saya pun akan memunculkan opsi ke empat, tapi sayang sampai saat ini opsi hanya dibuat sampai yang terkahir itu 3, meskipun banyak yang berpikiran setiap kepala itu berpikir yang berbeda-beda, tapi jika dilakukan survey rate, maka rating yang muncul pasti ketiga opsi tersebut. Jadi pentingnya disini apa? Dan bagaimana cara penyelesaiannya? Jika terselesaikan, itu berdasarkan apa? Adakah yang tau readers? Cukup dijawab di dalam hati sendiri saja, karna bagaimanapun, adakalanya pertanyaan tak semua butuh penjelasan, karna jika jawaban itu rahasia, maka tetap simpanlah rahasia itu, selama kau bisa mempertahankan rahasia itu.
Cukup sekian cuap-cuap hari ini, lampbai” tangan, usap keringat.
Annyeong. . . .

Tertanda – yang bertandangan J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar